Beranda > Pendidikan > Untukku & Untukmu Wahai Adik – adikku…

Untukku & Untukmu Wahai Adik – adikku…


Telah lama saya tidak menulis lagi dalam sebuah rumah maya tempat saya tinggal ini. Karena sungguh saya tidak tau apa yang harus saya goreskan dalam tinta saya yang kini mulai mongering (karena terlalu sering dicoretkan untuk tugas akhir)…

Menilik tentang kejadian tadi sore, ada tiga anak yang masih imut dan lucu. Mereka tiga orang kakak beradik yang dibesarkan dalam sebuah keluarga berada serta berkecukupan. Masing – masing dari mereka masih duduk di bangku SD. Melalui sebuah perkenalan sederhana, saya mengenal mereka. Dan kinipun mereka menjadi adik bombing saya dalam privat kursus, si sulung dan adiknya yang kedua. Mereka terlihat ceriaaa sekali. ^_^

Terkadang, ketika belajar bersama mereka, saya terdiam menatap wajah dan perangai mereka yang masih lugu dan polos. Tentu, karena mereka masih anak – anak. Belum jelas di mata mereka, gambaran tentang perjalanan hidup yang panjang serta berliku ini…(Semoga Allah ta’ala memudahkan jalan mereka)

Ada sebuah tanya dalam benak saya…

Kemanakah mereka akan melangkah kelak…?

Apa yang akan terukir dalam benak sang anak, untuk menjalani kehidupan berliku ini…?

Sesaat diam itulah saya teringat akan sebuah kisah tentang Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri -rahimahullahu-. Sebuah kisah yang menunjukkan akan hausnya seorang anak akan ilmu serta dukungan yang kuat dari sang ibunda. Sufyan Ats-Tsauri sibuk menuntut ilmu sejak usia dini disebabkan dorongan, dan arahan ibunya agar Sufyan kecil mengambil manfaat dan pelajaran dari para ulama, baik berupa ilmu maupun pelajaran yang didapatkan dengan duduk bersama mereka, hingga ilmu yang diperolehnya akan memiliki pengaruh terhadap akhlak, adab, dan muamalahnya terhadap orang lain.

Ketika menyuruh putranya untuk hadir di halaqah-halaqah ilmu maupun majelis-majelis para ulama, ibunda Sufyan Ats-Tsauri berpesan, “Wahai anakku, ini ada uang sepuluh dirham. Ambillah dan pelajarilah sepuluh hadits! Apabila kaudapati hadits itu dapat merubah cara dudukmu, perilakumu, dan ucapanmu terhadap orang lain, ambillah. Aku akan membantumu dengan alat tenunku ini! Tapi jika tidak, maka tinggalkan, karena aku takut nanti hanya akan menjadi musibah bagimu di hari kiamat!”(dikutip dari buku Waratsatul Anbiya’, hal.36-37)

Tak jauh beda dengan kisah ibunda Al-Imam Malik ibnu Anas –rahimahullahu-, beliau selalu memperhatikan keadaan putranya saat hendak pergi belajar. Al-Imam Malik mengisahkan:

“Aku berkata kepada ibuku, ‘Aku akan pergi untuk belajar.

’ ‘Kemarilah!’ kata ibuku.

‘Pakailah pakaian ilmu!’

Lalu ibuku memakaikan aku mismarah (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan,‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’ Dia juga pernah mengatakan, ‘Pergilah kepada Rabi’ah2! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!’ (dikutip dari buku Waratsatul Anbiya’, hal. 39)

Subhanallah…

Perjuangan seorang ibunda yang ingin anak – anaknya menjadi berilmu…

Perjuangan seorang ibunda yang ingin putra – putri mereka menjadi penyejuk pandang…

Teringat dalam sebuah buku, Ibnul Anbari rahimahullahu mengatakan pula:

مَنْ أَدَّبَ ابْنَهُ صَغِيْرًا قَرَّتْ عَيْنُهُ كَبِيْرًا

“Barangsiapa mengajari anaknya adab semasa kecil, maka akan menyejukkan pandangannya ketika si anak telah dewasa.” (dikutip dari kitab Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/306)

Namun betapa mirisnya hati kita bila melihat anak-anak kaum muslimin sekarang ini. Dalam usia yang sama dengan para tokoh ini tadi, mereka tidak mempelajari ilmu agama ataupun memperbaiki kesungguhannya. Akankah ini kita biarkan…?

Mari belajar adik – adikku…

Belajarlah bersama kakak, bersama teman – teman, bersama kaum muslimin…

Agar ayah bundamu senang…agar pandangan mereka tenang…agar jalanmu terang…

Karena kini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga telah menggariskan bahwa kita hidup di zaman penuh fitnah dan coba…beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salla berucap:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتَلاَفًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي، عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Sesungguhnya orang yang hidup di antara kalian (sepeninggalku), dia akan mendapati perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian untuk berpegang dengan sunnah (bimbingan)ku dan sunnah para khulafa’ rasyidin sepeninggalku. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.” (HR. Abu Dawud 4607, At-Tirmidzi 2676.Ash-Shahihah no. 937)

Belajarlah dik…

Agar kita mampu dan mau, menggigit sebuah cahaya…

Cahaya sunnah…

مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي

Yaitu apa – apa yang aku berada di atasnya dan juga para shahabatku. (HR. At-Tirmidzi 2641, Ath-Thabarani I/256. Ash-Shahihah 203, 204)

Semoga kelak aku, teman – teman serta adik – adikku mampu menjalani kehidupan yang berliku ini di tas bimbingan ilmu dan selamat hingga ke hadirat Rabb yang Mulia…

Dan untukmu wahai orang tua kami, semoga kita sama – sama mengetahui bahwa mengajarkan kebaikan pada anak ibaratnya adalah mengukir di atas batu…sulit, namun masih bisa untuk dilakukan.

Namun jika mengajarkan kebaikan ketika seseorang itu telah dewasa, maka itu ibarat mengukir di atas air…

~____~____~

Ditulis oleh Abu ‘Abdirrazzaq al Fitrah di keheningan malam 17 Syawal 1430 H

sumber: https://fitrahfitri.wordpress.com/2009/10/06/untukku-untukmu-wahai-adik-adikku/

Kategori:Pendidikan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s