Beranda > Jihad dan Terorisme > Menyoal Bom Bunuh Diri dan Pelakunya

Menyoal Bom Bunuh Diri dan Pelakunya


Beberapa waktu yang lalu, lagi-lagi kita dikejutkan dengan sebuah tragedi meledaknya bom di sebuah masjid dalam sebuah markas kepolisian. Bom itu meledak ketika shalat didirikan sehingga menyebabkan korban berjatuhan. Bom itu sengaja dipasang di bagian perut korban sehingga dengan meledaknya bom tersebut, pelakunya pun tewas seketika. Tak ayal lagi, dengan mendengar kronologis kejadian itu, kita mengambil kesimpulan bahwa bom itu merupakan sebuah bom bunuh diri.

Yang menyebabkan kita tidak habis pikir adalah adanya sebagian dari umat ini meyakini bahwa aksi-aksi semacam itu merupakan tindakan jihad dan pelakunya merupakan mujahid atau sebagai syuhada’. Benarkah keyakinan mereka itu?

Bom Bunuh Diri Bukan Jihad

Allah ta’ala berfirman dalam kitab-Nya untuk mengharamkan tindak bunuh diri (artinya), “Dan janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah Maha menyayangi kalian.” (QS. An-Nisaa’: 29)

Demikian juga Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menerangkan tentang haramnya bunuh diri dengan menerangkan azab yang akan diterima oleh pelaku bunuh diri itu di akhirat kelak. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu, maka ia akan diazab dengan sesuatu itu pada hari kiamat” (HR. Muslim)

Itulah ancaman yang datang dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada orang-orang yang sengaja melakukan tindak bunuh diri. Jika tindakan bunuh diri itu mendapatkan ancaman yang sedemikian kerasnya dari Rasulullah, maka orang berakal mana yang bisa mengatakan bahwa tindakan bom bunuh diri merupakan bagian dari jihad?

Berdasarkan hadits di atas, jika seseorang yang melakukan tindak bunuh diri dengan menikamkan pisau di perutnya, atau mengiris urat nadinya dengan pisau, maka orang itu akan diazab oleh Allah dengan pisau yang ia pergunakan untuk bunuh diri itu pada hari kiamat kelak. Jika seseorang melakukan tindak bunuh diri dengan menggantung dirinya, maka seperti itulah ia diazab oleh Allah kelak di akhirat. Demikian juga dengan orang-orang yang melakukan tindak bunuh diri dengan memasang bom di tubuhnya, kemudian bom itu meledak sehingga menewaskan diri mereka, maka seperti itulah mereka kelak akan diazab oleh Allah. Na’udzubillaah min dzaalik.

Maka, tindakan bom bunuh diri dan menamakannya sebagai bom syahid, mengatakan bahwa tindakan tersebut adalah jihad, pelaku yang tewas dalam peristiwa itu dikenang sebagai syahid, hal yang demikian itu merupakan tindak penyelewengan dan kesesatan dalam beragama. Apalagi, dengan tindakan seperti itu, mereka menyebabkan kaum muslimin terluka atau bahkan terbunuh, maka tentu bertambah pula penyelewengan mereka. Inilah yang terjadi dalam berbagai aksi bom bunuh diri di berbagai tempat di negeri kaum muslimin, khususnya di Indonesia.

Allah ta’ala berfirman,

Dan janganlah kalian membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan alasan yang benar.” (QS. Al-Israa’: 33)

Diantara jiwa yang diharamkan untuk membunuhnya adalah jiwa-jiwa kaum muslimin. Darah, harta dan kehormatan kaum muslimin itu terlindung. Tidak diperbolehkan bagi orang lain untuk melanggarnya. Jika ada seseorang yang melanggarnya dengan sengaja, maka dia telah melakukan dosa besar. Bahkan Allah mengancam para pelaku pembunuhan terhadap kaum muslimin yang dilakukan secara sengaja dengan ancaman neraka Jahanam.

Allah ta’ala berfirman (artinya),

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah jahannam, Kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya” (QS. An Nisaa`: 93)

Begitu mulianya kehormatan seorang muslim di sisi Allah sehingga Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya), “Runtuhnya dunia adalah lebih baik di hadapan Allah, daripada membunuh seorang muslim” (HR. An Nasa’i, dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallaahu ‘anhu)

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam (artinya), “Darahmu dan hartamu adalah suci dari orang lain, seperti sucinya harimu ini, dan sucinya kota kalian (Mekkah), dan bulanmu” (HR. Muslim(

Bahkan, Abdullah bin Umar radhiyallaahu ‘anhuma ketika berada di hadapan ka’bah, beliau berkata (artinya), “Begitu besarnya kamu, dan begitu besarnya kesucianmu, tapi orang-orang yang beriman itu lebih besar kesuciannya di hadapan Allah dibanding kamu”.

Ini menunjukkan betapa besar kehormatan kaum muslimin sehingga dilarang untuk menumpahkan darah mereka dengan tanpa alasan yang dibenarkan syari’at Islam. Lalu kapan seorang muslim itu boleh dibunuh?

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya), “Tidak halal menumpahkan darah seorang muslim yang bersaksi tidak ada sesembahan (yang benar) selain Allah dan bersaksi bahwa aku (Muhammad) adalah Rasulullah kecuali dengan salah satu dari tiga alasan: [1] nyawa dibalas nyawa (qishash), [2] seorang lelaki beristri yang berzina, [3] dan orang yang memisahkan agama dan meninggalkan jama’ah (murtad).” (HR. Bukhari-Muslim)

Lalu, bagaimana hukumnya jika seseorang membunuh seorang muslim tanpa sengaja? Dalam hal pembunuhan terhadap seorang muslim dengan tanpa kesengajaan, Allah mewajibkan pelakunya untuk membayar diyat/denda dan kaffarat/tebusan.

Allah ta’ala berfirman (artinya),

“Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja) dan Barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diyat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah (dengan memberikannya maaf).” (QS. An-Nisaa`: 92)

Dan, yang kita lihat, bahwa peledakan bom yang terjadi di Indonesia, khususnya yang terjadi baru-baru ini merupakan tindakan pembunuhan secara sengaja. Pelakunya dengan sengaja melakukan bom bunuh diri di tengah khalayak kaum muslimin sehingga ketika bom itu meledak, pelakunya mati dan kaum muslimin yang ada di sekitarnya pun ikut menjadi korban. Jelas, peledakan bom itu telah direncanakan sebelumnya. Inilah indikasi dari kesengajaan para pelaku bom bunuh diri untuk melakukan pembunuhan secara sengaja. Jadi, amat sulit jika kita menyatakannya sebagai pembunuhan karena ketidaksengajaan berdasarkan fakta yang ada.

Maka, masih layakkah tindakan bom bunuh diri ini disebut sebagai bom syahid dan pelakunya disebut sebagai mujahid? Tentu orang yang berakal akan menjawab TIDAK. Allahua’lam bish-showab.

Ditulis oleh Aqil Azizi

Silahkan download artikel ini dalam format PDF disini: menyoal bom bunuh diri dan pelakunya.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s