Beranda > Aqidah > Tumbal dan Sesajen: Fenomena Kesyirikan Yang Sudah Memasyarakat

Tumbal dan Sesajen: Fenomena Kesyirikan Yang Sudah Memasyarakat


Tempointeraktif.com

Ratusan masyarakat yang tergabung dalam Paguyuban Tri Tunggal melakukan upacara tolak bala di Tugu Yogyakarta. Upacara tolak bala ini dilakukan agar tak ada lagi korban bencana Merapi dan lahar dingin.

Kompas.com

Puncak acara diisi dengan pemotongan seekor Kerbau Bule dan sembilan ayam jago Jurik Kuning sebagai sesaji. Selain itu ada juga getuk lindri dengan bentuk boneka manusia yang berjumlah 99.

Sombo, Anggota PKTT menuturkan, sesaji merupakan simbol manusia dan alam sekitarnya. ”Ritual ini diharapkan dapat terjadi harmonisasi antara manusia dan alam,” katanya.

Kepala kerbau dan sembilan jago Jurik Kuning, rencananya akan dibawa ke lereng Merapi untuk ditanam di sana malam ini juga. “Daging badannya akan dibagikan pada warga,” kata Wahadi, anggota lain dari Seyegan.

 

Semua orang tentu mendambakan keselamatan dan kebahagiaan, sehingga apabila ada bencana yang mengancam mereka pun berusaha menangkalnya. Dan jika bencana sudah menimpa, maka berbagai cara pun ditempuh untuk menghilangkannya. Dalam keadaan seperti ini, orang yang tidak memiliki pemahaman tauhid yang benar sangat rawan terjerumus dalam kesyirikan.

Dua nukilan berita di atas merupakan bukti bahwa ketika masyarakat tidak paham akan makna tauhid dan syirik, ketika mereka hendak memohon keselamatan, justru mereka menempuh cara-cara yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Di antara cara yang mereka tempuh adalah mengadakan ritual-ritual kesyirikan sesajen yang diperuntukkan kepada para penguasa alam ghaib yang disinyalir menjadi sebab bencana alam yang sedang terjadi.

Jika di laut, maka sesajen itu diperuntukkan kepada penguasa laut. Biasanya sesajen itu berupa binatang-binatang sembelihan semisal kambing, sapi atau kerbau. Hewan-hewan sembelihan tersebut disembelih kemudian kepalanya dilarungkan ke laut disertai dengan taburan bunga. Allahulmusta’an.

 

Hanya Allah Sumber Keselamatan

Seorang muslim harus yakin bahwasanya hanya Allah lah yang menguasai seluruh kebaikan dan mudharat, baik yang belum menimpa maupun yang sudah menimpa.

Allah ta’ala berfirman (artinya), “Katakanlah: Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudhratan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya? Katakanlah: Cukuplah Allah bagiku, kepada-Nya lah bertawakal orang-orang yang berserah diri.” (QS. Az Zumar [39]: 38).

Ayat ini dan ayat-ayat yang semacamnya memupus ketergantungan hati kepada selain Allah dalam meraih kebaikan atau menolak madharat, bukan para penguasa alam yang sejatinya adalah makhluk lemah bernama jin. Ayat di atas juga menunjukkan bahwa ketergantungan hati kepada selain Allah itu termasuk perbuatan mempersekutukan-Nya. Ketergantungan hati itu kemudian diaplikasikan dalam bentuk meminta keselamatan kepada jin-jin penguasa alam yang diperuntukkan sesajen-sesajen itu kepada para jin tersebut.

Namun, Allah telah mensinyalir adanya orang-orang yang mencari manfa’at dan menolak madharat kepada selain Allah, seperti yang telah dilakukan oleh orang-orang musyrik di masa jahiliyah, sebagaimana difirmankan Allah (artinya), “Kemudian mereka mengambil ilah-ilah selain Dia (untuk disembah), yang tidak menciptakan sesuatu apa pun, bahkan mereka sendiri pun diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) sesuatu kemanfa’atan dan tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) mem-bangkitkan.” (QS. Al-Furqan:3)

Masuk Neraka “Hanya” Karena Seekor Lalat

Mungkin saja sebagian orang yang melakukan tumbal dan sesajen ber-alasan, bahwa yang dipersembahkan bukanlah nyawa manusia yang konon pernah terjadi di zaman dulu, namun hanya sekedar binatang yang keberadaannya memang untuk dimanfa’atkan manusia. Hitung-hitung sedekah lah, sedekah alam, sedekah bumi, laut atau gunung, demikian sebagian di antara mereka beralasan.

Perlu diketahui, bahwa permasalahannya tidak sesederhana itu, sebab ini menyangkut tauhid dan syirik yang berkaitan dengan status keislaman seseorang serta ancaman Allah terhadap para musyrikin. Jika apa yang mereka lakukan adalah memang bentuk sedekah, maka tentu Allah dan Rasulullah akan membiarkan orang-orang jahiliyah mengerjakan hal semacam itu, sebab mereka masih mengakui rububiyah Allah. Letak permasalahannya bukanlah pada apa yang mereka sembelih atau mereka sede-kahkan (menurut mereka), namun pada tujuan untuk siapa sembelihan dan persembahan itu dilakukan.

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam pernah mengisahkan seseorang yang masuk neraka karena seekor lalat, dan masuk surga karena seekor lalat.

Beliau bersabda (artinya), “Ada seseorang masuk surga karena seekor lalat, dan ada seseorang masuk neraka karena seekor lalat pula.” Para shahabat bertanya,” Bagaimana hal itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ada dua orang berjalan melewati suatu kaum yang memiliki berhala. Tak seorang pun dapat melewati berhala itu sebelum mempersembahkan kepadanya suatu kurban. Ketika itu berkatalah mereka kepada salah seorang dari kedua orang tersebut, “Persembahkanlah korban kepadanya.” Dia menjawab, “Aku tidak mempunyai sesuatu yang dapat kupersembahkan kepadanya.” Mereka pun berkata kepadanya lagi,” Persembahkan meskipun seekor lalat.” Lalu orang tersebut mempersembahkan seekor lalat dan mereka pun memperkenankan dia untuk meneruskan perjalanan, maka dia masuk neraka karenanya. Kemudian mereka berkata kepada yang lain,” Persembahkanlah korban kepadanya.” Dia menjawab” Tidak patut bagiku mempersembahkan sesuatu kepada selain Allah Azza wa Jalla.” Kemudian mereka memenggal lehernya. Karenanya orang ini masuk surga.” (HR. Ahmad)

Perhatikan bagaimana kondisi orang yang melakukan persembahan kepada selain Allah di dalam hadits di atas. Dia tidak dengan sengaja meniatkan persembahan itu, sekedar untuk melepaskan diri dari perlakuan buruk para pemuja berhala itu, dan hanya persembahan seekor lalat, namun ter-nyata telah menjerumuskannya ke dalam neraka.

Jika seekor lalat saja yang dipersembahkan kepada selain Allah bisa menjerumuskan seseorang ke dalam neraka, seekor hewan yang mungkin kita anggap remeh, apalagi ayam atau kambing atau sapi atau kerbau yang dijadikan tumbal atau sesajen. Tentu saja ayam atau kambing atau sapi atau kerbau lebih berat di sisi Allah daripada hanya seekor lalat.

Oleh karenanya, jika kita menghendaki keselamatan, maka tempuhlah jalan dan cara yang telah diperintahkan oleh Allah. Tempuhlah cara bagaimana Islam mengajarkan manusia mencari keselamatan. Ingatlah, cara yang salah dalam mencari keselamatan bisa menjerumuskan seseorang ke dalam dosa syirik. Sedangkan Allah tidak akan mengampuni dosa syirik.

Allah berfirman (artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. An-Nisa: 48). Allahua’lam bish-showab.

 

Disusun oleh Aqil Azizi

Referensi tulisan: buletin Jum’at An-Nur dan artikel Menolak Bala Tetapi Mengundang Murka oleh ust. Abu Mushlih Ari Wahyudi

Kategori:Aqidah
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s