Beranda > Aqidah > Ketika Media Ikut Memasarkan Perklenikan

Ketika Media Ikut Memasarkan Perklenikan


Diantara beragam faktor yang menjadi penunjang tumbuh suburnya perilaku mistik dan klenik di tengah masyarakat Indonesia tak pelak dipicu oleh sejumlah media massa , baik media cetak, lebih-lebih media televisi. Bahkan televisi memiliki andil yang paling besar yang bertanggung jawab atas kerusakan aqidah akibat tayangan-tayangan yang disuguhkan, karena televisi merupakan media audio-visual. Wajar saja jika Syaikh Shalih Al-Utsaimin menyebut televisi sebagai ‘orangtua ketiga’.

Media cetak, walau tidak seampuh televisi, tapi ketika media tersebut tampil dengan format yang dibungkus dengan ajaran Islam, umat islam pun menjadi terkecoh sehingga mereka memburu media jenis ini. Konon, saking diminatinya media semacam ini, sehingga media cetak yang menjajakan klenik dan mistik mampu memperoleh oplah tinggi, bahkan menempati oplah terbesar majalah di Indonesia. Pasalnya, media televisi pun ikut aktif dalam promosi majalah-majalah semacam ini.

Fenomena ini adalah fakta yang tak terbantahkan. Kegilaan masyarakat negeri ini terhadap dunia klenik dan mistik yang jelas-jelas membawa pesan kesyirikan begitu tinggi. Animo masyarakat yang tinggi terhadap dunia mistik, perdukunan, sihir, pengobatan alternatif ala dukun, ilmu hitam dan ilmu putih, ilmu kebal dan lainnya menjadi daya pikat tersendiri sehingga dipandang sebagai peluang bisnis yang menggiurkan. Sajian yang memenuhi selera klenik masyarakat pun disuguhkan, serta dikemas oleh seluruh media yang ada, terutama media cetak dan televisi melalui beragam “Acara Dunia Hitam”.

Simak saja acara-acara televisi yang bertemakan “alam lain” yang begitu diminati oleh berbagai lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga kakek-nenek. Sebut saja, di TPI misalnya, menggelar acara: TV Misteri dan berbagai sinetron dan cerita laga yang berbau mistik dan dunia hitam. Bahkan, untuk melatih anak-anak ke alam fantasi mistik, TPI menggelar sinetron anak-anak yang berjudul ‘Tuyul dan Mbak Yul’ (yang dulunya juga sempat disiarkan di RCTI).

Puluhan acara mistik lainnya juga digelar oleh stasiun televisi lainnya yang ditunggu oleh pemirsa. Misalnya saja: Percaya Nggak Percaya, Misteri dan Oo Seram (ANTV), Dendam Nyi Pelet, Nyi Blorong dan Mak lampir (Indosiar), Misteri Kisah Nyata, Komedi Misteri (Lativi), Dunia Lain yang merupakan acara yang punya rating tinggi (Trans TV), Mega Misteri, Kismis (RCTI), dan serentet acara mistik lainnya yang ditayangkan setiap hari di televisi. Ditambah lagi film-film bioskop yang senantiasa diproduksi hingga sekarang juga memuat nuansa mistik dan kesyirikan. Karena minat dan animo masyarakat yang tinggi kepada acara-acara semacam ini, maka tidak heran jika para rumah produksi itu meraup profit besar dari perolehan iklan dan yang semacamnya.

Fenomena begitu dominannya minat mistik di tengah masyarakat kita ini tergambar juga dari tingginya animo masyarakat untuk menyaksikan pertunjukan, pameran, dan fenomena yang berbau mistik. Misalnya saja: pertunjukan jenglot, sebuah boneka mini yang berwajah seram yang konon katanya pada waktu-waktu tertentu, benda mati ini diberikan makan darah; atau fenomena-fenomena langka semisal batu Ponari, penampakan wajah di sebatang pohon pinang dan lain sebagainya. Sekali lagi, media massa memegang peran besar dalam masalah ini.

Demikian juga dengan boomingnya lagu dangdut dengan judul “Mbah Dukun” yang dinyanyikan oleh Alam, menjadi hits favorit negeri ini. Lagu ini begitu diminati dan dinyanyikan oleh seluruh lapisan masyarakat. Bahkan hits ini sempat menempati tangga lagu popular. Inipun menjadi indikator yang menunjukkan betapa tinggi minat masyarakat terhadap dunia perklenikan. Dan lagi-lagi, media memegang andil besar dalam menumbuh suburkan perilaku klenik dan perdukunan di Indonesia.

Media Klenik Berbaju Islam

Dari fenomena yang begitu meresahkan di atas, justru ada satu fenomena lain yang lebih meresahkan, yakni peranan media cetak berbentuk majalah berformat kecil yang mengusung nama dan label Islam, tapi menampilkan cerita-cerita mistik berbau syirik dan khurafat sebagai sajian utamanya.

Meneliti model majalah seperti ini yang sempat marak di masyarakat, paling tidak ada tiga nama besar yang terbit yang mempublikasikan pesan-pesan klenik, mistik, khurafat dan kesyirikan dalam setiap sajiannya, atau paling tidak bisa mengarahkan pembacanya kepada kesyirikan, walau mereka membungkusnya dengan sajian dakwah Islamiyah, aqidah dan semacamnya. Bahkan mereka memproklamirkan diri mereka sebagai media yang memberantas kesyirikan. Media seperti ini amat digandrungi oleh umat Islam, meskipun kenyataannya media ini secara terang-terangan mengeksploitasi ke’keblinger’an masyarakat terhadap hal mistik dan klenik. Seolah-olah masyarakat telah diluruskan untuk mengikuti perklenikan dan diizinkan dalam Islam.

Hampir setiap agen majalah dan Koran menceritakan bagaimana melejitnya oplah penjualan media ini. Sebut saja nama majalah Hidayah yang memperoleh oplah penjualan tinggi dengan sajian penuh dengan cerita-cerita mistik dan klenik. Konon, majalah ini sudah mencapai oplah 300.000 eksemplar setiap kali terbit. Jumlah oplah tinggi itu menyalip oplah majalah-majalah besar seperti Gatra, Tempo, dan sebagainya. Padahal usia majalah ini belumlah lama.

Menyimak sajian majalah ini, seperti pada edisi ke 23, Juni 2003, rubrik-rubrik yang ditampilkan sebagian besar hanyalah soal dakwah dan human interest, misal: rubrik tarikh Islam yang memuat riwayat Zubair bin Awwam. Ada rubrik konsultasi agama yang diasuh oleh Hj. Luthfiah Sungkar. Ada rubrik syi’ar, aqidah, atau profil teladan. Ada lagi profil Dunia Islam di berbagai negeri seperti di Perancis yang diceritakan dengan sangat bagus.

Rubrik Konsultasi Dzikir asuhan Muhammad Arifin Ilham yang begitu kental nuansa tasawuf dan mengarahkan orang kea rah tasawuf yang juga cenderung ke alam ghaib. Rubrik Tahukah Anda yang tidak bermasalah. Ada laporan pesantren-pesantren dan lain sebagainya.

Masuk ke dalam rubrik kisah tragis yang mengisahkan tentang seorang pencuri dengan ilustrasi gambar bernyawa terbakar api yang menjilat-jilat. Demikian juga dengan sebuah kisah mistik yang diangkat oleh majalah Hidayah ini, yang sekaligus dijadikan sebagai judul cover: “Kubur Meledak, Jenazah Terpental Keluar karena Telantarkan Anak Yatim”. Riwayat cerita ini sangat berbau eksploitasi kesyirikan yang sangat pekat.

Dikisahkan, peristiwa ini terjadi tahun 1950 di sebelah barat Tangerang. Tersebutlah seorang kaya raya bernama Salim (samaran) yang selama ini berlaku zhalim, kikir dan menganiaya anak-anak yatim. Karena berasal dari keluarga yang kaya raya, maka ketika dia meninggal, orang kaya yang zhalim ini mampu membayar orang-orang untuk mengadakan tahlilan selama tujuh malam di atas kuburnya maupun di rumahnya, sebagaimana tradisi di Betawi. Alkisah pada hari ketujuh, jenazah Salim ini meledak dan terlontar dari dalam kuburnya, mengeluarkan asap dan juga bau yang sangat busuk. Semua orang lari tunggang langgang. Sejumlah orang diwawancarai oleh majalah Hidayah ini, dan mengaku sebagai saksi peristiwa ghaib itu.

Semua itu jelas-jelas omong kosong dan mengaduk-aduk minat keranjingan masyarakat akan klenik dan dunia mistik.

Sungguh memprihatinkan sekaligus ironis. Kendati berbagai rubrik bahkan sebagian besarnya terdiri dari rubrik keislaman dan dakwah Islamiyah, namun tak bisa dipungkiri, sajian utama mereka justru berkutat pada persoalan kesyirikan. Umat Islam tampaknya terpedaya dan merasa sah-sah saja mengikuti sajian klenik majalah ini karena telah dikesankan bahwa versi seperti itu bukanlah kesyirikan. Atau karena kedangkalan ilmu umat islam tentang hakekat kesyirikan.

Disamping itu, majalah-majalah seperti ini memuat berbagai macam iklan barang-barang klenik dan perdukunan. Bahkan berbagai praktek perdukunan pun dipublikasikan dalam berbagai kesempatan di majalah seperti ini, yang meliputi berbagai praktek pengobatan alternatif ala perdukunan. Demikian juga ramalan-ramalan dan hal-hal ghaib lainnya.

Di dalam Al-Qur’an, Allah telah menegaskan bahwa hanya Dia yang memiliki hak khusus soal alam ghaib. Bahkan Rasulullah sendiri tidak mengetahui perkara ghaib, kecuali setelah Allah wahyukan kepada beliau sebagian perkara-perkara ghaib itu.

Allah berfirman, “Katakanlah: aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?” Maka Apakah kamu tidak memikirkan(nya)?” (QS. Al-An’am: 50)

Allah juga berfirman, “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (QS. Al-An’am: 59)

Pekanbaru, menjelang Ashar 26 Rabi’ul Awwal 1432H (01 Maret 2011)

Ditulis oleh Abu Shofiyah Aqil Azizi

Maraji’: Misteri Malam Jum’at (Syari’ah Edition) oleh Ust. Abu Umar Basyir dengan gubahan dan tambahan dari penulis.

Kategori:Aqidah
  1. Cah Jowo
    Maret 2, 2011 pukul 8:25 am

    Alhamdulillaah. Artikel yg sangat bermanfaat bg umat Islam,khususnya bg umat Islam di Indonesia.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s