Beranda > Kesehatan Anak > Fakta di Balik Anak Susah Makan

Fakta di Balik Anak Susah Makan


Mungkin suatu kali Anda begitu ‘iri’ melihat anak tetangga makan dengan gampangnya. Sementara putra Anda yang notabene seumur dengan anak tersebut sulit makan bukan alang kepalang.
“Apa sih yang salah dengan anak saya?”

Pemberian makan tidaklah sesederhana yang kita bayangkan. Makan merupakan salah satu kegiatan biologis yang kompleks, yang melibatkan berbagai faktor fisik, psikologis, dan lingkungan.

Makan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan berbagai macam zat gizi untuk keperluan metabolisme agar tubuh sehat dan daya tahan tubuh baik. Makan juga bertujuan mendidik anak agar terbiasa makan yang baik dan benar.

Berbagai keluhan yang sering dilontarkan orangtua

–    penerimaan makan yang tidak memuaskan
–    kebiasaan ngemut makanan
–    makan terlalu sedikit
–    kesukaran dalam ketrampilan makan
–    menolak makan
–    hanya mau makanan tertentu
–    makan no, susu yes!

Penyebab kesulitan makan pada anak

    faktor nutrisi
    faktor penyakit/kelainan organik
    faktor gangguan/kelainan kejiwaan

Selama masa tumbuh kembang, berdasarkan kemampuan untuk mengonsumsi makanan, memilih jenis makanan dan menantukan jumlahnya, anak-anak dikelompokkan sebagai:
– konsumen pasif : bayi
– konsumen semi-pasif/semi-aktif : balita
– konsumen aktif : anak sekolah dan remaja

Mengapa bayi sulit makan?

  • adanya cacat/kelainan bawaan pada mulut atau yang lainnya
  • manajemen pemberian ASI yang kurang benar
  • pengenalan makanan tambahan yang kurang tepat (terlalu dini atau terlambat)
  • jadwal pemberian makan yang terlalu kaku
  • cara pemberian makan yang kurang tepat (terlalu memaksa soal waktu dan jumlah)
  • terdapat gangguan berkaitan dengan kesulitan menyusu dan menelan

Mengapa balita sulit makan?

Berbeda dengan bayi, respon mengisap secara berangsur-angsur telah tergantikan dengan ketrampilan makan untuk mengonsumsi berbagai jenis makanan padat dan minuman.

Nafsu makan pada balita bisa jadi berkaitan dengan meningkatnya sosialisasi dengan lingkungan dan ruang gerak anak semakin meluas.
Semakin bertambah usia, seorang anak semakin memiliki aktivitas yang beragam, terutama bagi anak yang sudah memasuki usia sekolah dasar. Otomatis mereka lebih banyak bergerak, ke sekolah, bermain, dan sebagainya. Anak jadi sering mengabaikan waktu sarapan atau makan siang. Sebaliknya bisa juga terjadi, anak mengalami obesitas karena kurang aktivitas. Misalnya saja banyak menghabiskan waktu di depan televisi dan suka ngemil.

Selain faktor di atas, waspadai juga kemungkinan adanya penyakit atau kelainan organik seperti;
–    kelainan bawaan (misalnya bibir sumbing)
–    penyakit infeksi akut (misalnya infeksi saluran pernapasan)
–    infeksi kronis (misalnya TBC)
–    penyakit non-infeksi (misalnya penyakit jantung bawaan)

Kemungkinan lain yang juga mesti diamati dalam menghadapi masalah kesulitan pemberian makan pada anak adalah pendekatan psikologis. Jika berbagai kemungkinan di atas sudah terselesaikan sementara si kecil tetap sulit makan, ada baiknya mengkonsultasikan kepada psikolog.

 

Sumber: http://www.anakku.net

Kategori:Kesehatan Anak
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s